Media Massa Sebagai Alat Propaganda Amerika Serikat Dalam Masalah Terorisme Di Asia Tenggara

Keamanan Internasional menjadi isu yg sangat panas pasca serangan pemboman gedung WTC (World Trade Centre) dan Pentagon tahun 2001 di Washington DC Amerika Serikat (AS). Seperti yang telah diketahui sbelumnya AS adalah negara yg memiliki komitmen Preemptive Strike yakni The United States must and will maintain the capability to defeat any attempt by an enemy–whether a state or non-state actor–to impose its will on the United States, our allies, or our friends, Amerika Serikat harus dan akan menjaga kapabilitas untuk mengalahkan segala usaha musuh baik aktor negara maupun aktor non-negara, dan untuk diterapkan di Amerika Serikat, dengan aliansi atupun rekan.

Pastinya serangan tersebut merupkan tamparan keras bagi AS dan g dipercaya kuat oleh Amerika dilakukan oleh Al-Qaeda, sehingga menyebabkan banyak perubahan dalam kebijakan luar negeri dari negara superpower AS menjadi lebih reaktif baik secara militer maupun non-militer.Ditekankan pada kebijakan non-militer yakni dalam penggunaan publik diplomasi yang dilakukan melalui media massa dan maupun teknologi informasi melaui media massa elektronik untuk menyebarkan ideologi mengobarkanperlawanan terhadap terorisme.

Literature…

Media massa merupakan alat yang sangat berperan besar bagi penyebaran
ideologi seiring dengan berkembangnya populasi dan teknologi yang dibuat
manusia. Sebagai media massa potensial yang muncul mempercepat jarak
penyebaran komunikasi. Media cetak, telegrafi, telepon, sistem wireless, film, radio, satelit, dan lain-lain.

Harold D. Laswell dalam tulisannya Propaganda (1937), mengatakan “propaganda adalah teknik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dalam memanipulasi representasinya”. Definisi lainnya dari Laswell dalam bukunya Propaganda Technique in the World War (1927), menyebutkan bahwa, “Propaganda adalah semata-mata kontrol opini yang dilakukan melalui simbol-simbol yang memiliki arti, atau menyampaikan pendapat yang kongkrit dan akurat (teliti), melalui sebuah cerita, rumor laporan, gambar-gambar dan bentuk-bentuk lain yang bisa digunakan dalam komunikasi sosial”.

Propaganda sendiri bisa dibagi menjadi 3 macam:

a. Propaganda putih, yaitu propaganda yang menyebarkan informasi ideologi
dengan menyebutkan sumbernya.
b. Propaganda kelabu, yaitu propaganda yang dilakukan oleh kelompok yang
tidak jelas. Biasanya ditujukan untuk mengacaukan pikiran orang lain,
seperti adu domba, intrik dan gosip.
c. Propaganda hitam adalah propaganda yang menyebarkan informasi palsu
untuk menjatuhkan moral lawan, tidak mengenal etika dan cenderung
sepihak

Kita bisa katakan propaganda media massa ini sebagai propaganda putih, dilihat dari caranya yang secara terbuka mendeklarasikan perang ideologi terhadap terorisme melalui media massa.

Media massa menjadi satu-satunya cara yang praktis untuk menyebarluaskan pesan-pesan dan menjadi pembawa propaganda baru sejalan dengan perkembangannya (Combs dan Nimmo dalam Shoelhi, 2009 : 53).

To know more….

Secara non-military Amerika memilih menggunakan kampanye atau campaign dalam upayanya memerangi terorisme di Asia Tenggara dengan cara propaganda melalui media massa. Hal ini juga didukung oleh perkembangan teknologi informasi komunikasi yang semakin maju dan menjadi salah faktor pendorong bagi Amerika dalam pemanfaatan media massa, karena memungkinkan terjadinya siklus arus informasi di seluruh dunia, dan masyarakat tidak bisa terpisahkan didalamnya.

Amerika Serikat melihat bahwa seluruh negara di dunia tidak terlepas dari komunikasi dan informasi, maka Amerika memiliki badan tersendiri dalam mengatur arus informasi ke seluruh dunia. Badan tersebut adalah USIA (United
State Information Agency) Melalui berbagai bentuk pemerintah Amerika Serikatmampu mendistribusikan dan menyamarkan propaganda lebih mudah. Termasukdidalamnya saluran media massa. Amerika Serikat menyediakan dana kuranglebih 1 juta dolar tiap tahunnya untuk pemberitaan-pemberitaan ke seluruh dunia.

  The way it goes…

 Amerika Serikat saat ini bermain dengan lebih terbuka dan agresif, khususnya dalam pemberlakuan kebijakan propaganda “War on Terrorism”,dalam hal ini Amerika Serikat bermain dengan lebih efektif dalam penggunaan media massa yang dijadikan alat untuk mempengaruhi opini publik dunia terutama Asia Tenggara. Di samping itu diketahui hadirnya kantor-kantor berita atau media internasional tercatat New York Times, The Washington Post, Asia Times, VOA, Global Times Online dan Newsweek punya perwakilan di Jakarta atau setidaknya memiliki koresponden di beberapa negara-negara di Asia Tenggara.

Hal tersebut lebih mempermudah AS dalam melancarkan diplomasi publiknya yakni dengan cara white propaganda di kawasan Asia Tenggara dimana white propaganda yaitu menyebarkan informasi ideologi dengan menyebut sumbernya (Cangara, 2009:332).

Propaganda melalui media massa ini memberikan banyak pengaruh bagi kawasan di Asia Tenggara, yakni Asia Tenggara menyandang julukan sarang terorisme dari dunia internasional, terutama dari Amerika Serikat, kemudian negara-negara di kawasan ini juga memberikan kesempatan Amerika dalam mempengaruhi kebijakan dalam negeri untuk memerangi terorisme. Dalam hal ini kebijkan war on terror di kawasan Asia Tenggara. Sebagai contohnya adalah di level internasional Counter Terrorism Commite (CTC), merupakan bukti dukungan Indonesia terhadap kebijakan anti terorisme global AS. Dan puncaknya pada pertemuan mereka 5 November 2001, saat itu AS telah meluncurkan operasi militer melawan Taliban, pemimpin ASEAN mengeluarkan Deklarasi Joint Action to Counter Terrorism dan ASEAN Minister Meeting on Transnational Crime (AMMTC) pada tahun 2001 tentang Kesatuan Aksi untuk melawan terorisme.

Let’s think about it…

  • Media massa merupakan alat komunikasi publik nasional maupun internasional yang  efektif karena mudahnya akses yang dapatdijangkau hampir di seluruh dunia, terutama media massa AS, dalam halini VOA, CNN dan the Times Magazine. Sebagai audience atau pemirsa kita memang disuguhi berbagai macam pemberitaan yang memang di dalamnya terdapat penyebaran ideologi salah satunya, maka dari itu diharapkan kita bisa menyaring berita dan informasi yang didapat,sehingga kita bisa membedakan informasi positif dan negatifnya, dan kitabisa mengambil manfaat dari adanya arus informasi tersebut.
  • Dalam mencapai kepentingannya Amerika Serikat berupaya baik secaram materil maupun ideologi untuk mempengaruhi pemerintahan yang ada diAsia Tenggara dalam membuat kebijakan, ataupun bekerjasama dalam rangka war on terrorism melalui counter of terrorism. Hal ini memang bisa dikatakan positif, tapi lepas dari itu pemerintahan yang berdaulat di Asia Tenggara harus bisamenggunakannya secara bijak dan proporsional dan tetap menjaga substansi kedaulatan dalam negeri dalam penerapan kebijakannya
  • Dengan adanya propaganda untuk memerangi terorisme di Asia Tenggara yang dilakukan Amerika Serikat seyogyanya harus ada penekanan bahwa ideologi terorisme berbeda ideologi sebuah agama, perang melawan  terorisme bukan berarti perang dalam melawan agama tertentu, tapi dalam hal ini adalah aksi-aksi penyerangan dan kekerasan yang dilakukan agar tidak ada generaliasasi kesamaan antara paham terorisme dengan suatu agama. Seyogyanga pemirsa di seluruh dunia bukan hanya di Asi Tenggara dapat memahami hal tersebut.

Dengan kekuatan dunia yang unipolar dan kecanggihan teknologi informasi saat ini, terlalu naive  apabila kita katakan media massa sebagai aktor netral. Berbica secara non-eutopis pasti akan selalu ada kepentingan dibalik kebijakan, peraturan, maupun kerjasama antra state actor dan atau non-state actor. Perlu kedewasaan dalam menyikapi arus informasi dan kebijakan untuk tidak menggeneralisasikan sebuah terminologi, terutama antara agama dan golongan tertentu.

Resource : Media Massa Sebagai Alat Propaganda Amerika Serikat Dalam Masalah Terorisme Di Asia Tenggara , Thesis of Rica Hadam Purwanti 2011.

About these ads

About hadamrica

unpredictable, always happy, interested in social-politics, in magister communication programe

Posted on September 3, 2012, in Communication, informasi, Politics, Social Politics, teknologi, teknologi informasi, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 794 other followers

%d bloggers like this: